REFRESING

REFRESING
GILI TRAWANGAN

Rabu, 19 September 2012

ASKEP LLA


BAB I

PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Leukemia; dalam bahasa Yunani leukos (λευκός): "putih"; aima (αίμα): "darah", atau lebih dikenal sebagai kanker darah merupakan penyakit dalam klasifikasi kanker (istilah medis: neoplasma) pada darah atau sumsum tulang yang ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid, umumnya terjadi pada leukosit (sel darah putih). Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal.Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita.
Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak sel darah putih sebelum diberi terapi.Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit.Jumlah yang semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya.
Insiden leukemia di negara Barat adalah 13/100.000 penduduk per tahunnya. Leukemia merupakan 2,8% dari seluruh kasus kanker. Sedangkan, frekuensi terbesar adalah leukemia akut, yakni 60% dari total kejadian.
Leukemia akut merupakan proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang lain daripada normal, jumlahnya berlebihan, serta dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian.Leukemia akut diklasifikasikan menjadi 2 menurut FAB (French-American-British), yakni leukemia limfositik akut dan leukemia mielositik akut.
Leukemia Limfositik Akut terdapat pada 20% orang dewasa yang menderita leukemia. Keadaan ini merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak di bawah umur 15 tahun, dengan puncak insiden antara umur 3 sampai 4 tahun.

B.       Tujuan
a.    Tujuan Umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah Keperawatan Anak 2 tentang asuhan keperawatan klien dengan Leukemia: ALL.

b.   Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulis dalam menyusun makalah ini agar mahasiswa mengetahui definisi dari Leukemia: ALL, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, evaluasi diagnostic, penatalaksanaan medis, komplikasi, serta proses keperawatan klien dengan Leukimia: ALL tersebut.
 BAB II

LANDASAN TEORI
A.          Definisi
Leukemia limfositik akut adalah bentuk akut dari leukemia yang diklasifikasikan menurut sel yang lebih banyak dalam sumsum tulang, yaitu berupa limfoblast.
Leukemia Limfositik Akut (LLA) adalah suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. (buku ajar Askep Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi)
Insiden LLA berkisar 2-3 per 100.000 penduduk, lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%) daripada usia dewasa (18%) dan lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan wanita.
Sel-sel yang belum matang, yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit, berubah menjadi ganas.Sel leukemik ini tertimbun di sumsum tulang, lalu menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah yang normal.
Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke hati, limpa, kelenjar getah bening, otak, ginjal dan organ reproduksi; dimana mereka melanjutkan pertumbuhannya dan membelah diri.Sel kanker bisa mengiritasi selaput otak, menyebabkan meningitis dan bisa menyebabkan anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya.
Pada leukemia terjadi proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang abnormal, jumlahnya berlebihan dan dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, serta dapat diakhiri dengan kematian.
B.           Klasifikasi
klasifikasi LLA, antara lain sebagai berikut:
a.     Secara morfologis, menurut FAB (French-America-British) LLA dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
Ø L1, ALL dengan sel limfoblast kecil-kecil dan merupakan 84% dari ALL,  biasanya ditemukan pada anak-anak.
Ø L2, sel lebih besar, inti ireguler, kromatin bergumpal, nucleoli prominen dan sitoplasma agak banyak, merupakan 14% dari ALL, biasanya terjadi pada orang dewasa.
Ø L3, ALL mirip dengan limfoma burkitt, yaitu sitoplasma basophil dengan banyak vakuola, hanya merupakan 1% dari ALL.
b.     Secara imunofenotipe, LLA dibagi menjadi 4 golongan besar, yaitu:
Ø Common ALL, frekuensi relative pada anak-anak 76% dan dewasa 51%.
Ø Null ALL, frekuensi relative pada anak-anak 12% dan dewasa 38%.
Ø T-ALL, frekuensi relative pada anak-anak 12% dan dewasa 10%.
Ø B-ALL, frekuensi relative pada anak-anak 1% dan dewasa 2%.
C.          Etiologi
Faktor  penyebab ALL tidak diketahui, tapi dimungkinkan karena interaksi sejumlah faktor berikut ini :
1.    Neoplasia
2.    Infeksi
3.    Radiasi
4.    Keturunan
5.    Zat kimia
6.    Mutasi gen
D.          Patofisiologi/ Pathway
ALL meningkat dari sel batang limfoid tunggal dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang.Biasanya dijumpai tingkat pengembangan limfoid yang berbeda dalam sumsum tulang, mulai dari yang premature hingga hampir menjadi sel normal.
Derajat kematangannya merupakan petunjuk untuk menentukan atau meramalkan kelanjutannya.Pada pemeriksaan darah tepi, ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya terdapat leukositosis, kadang-kadang leucopenia (25 %). Jumlah leukosit neutrofil sering kali rendah, demikian pula kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel-sel blast yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel pluripoten, kemudian stem sel limfoid, pre – B, early B,sel B intermediate, sel B matang, sel plasmasitoid, dan sel plasma. Limfosit T juga berasal dari stem sel pluripoten, berkembang menjadi stem sel limfoid, sel timosit imatur, cimmon thymosit, timosit matur, serta menjadi sel limfosit T helper dan limfosit T supresor.
Peningkatan produksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali.Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu: sakit kepala, mutah-muntah, kejang, dan gangguan pengelihatan.
 Pathway
E.           Manifestasi Klinis
Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal.Akibatnya, hematopoesis normal terhambat, mengakibatkan penurunan jumlah leukosit, sel darah merah, dan trombosit.Eritrosit dan trombosit jumlahnya rendah namun leukosit jumlahnya dapat rendah atau tinggi, tetapi selalu terdapat sel imatur.
Manifestasi infiltrasi leukemia lain dan mengakibatkan nyeri karena pembesaran hati dan limpa, sakit kepala, muntah karena keterlibatan meninges, serta nyeri tulang.
Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh).
Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).
Terserang Infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.
Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih.
Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita leukemia.
Pembengkakan Kelenjar Lympa. Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan menyebabkan pembengkakan.
Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.


F.           Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel normal bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Bentuk terapi utama dalam penanganan masalah LLA adalah kemoterapi.Kemoterapi untuk LLA yang paling mendasar terdiri dari atas panduan obat.
Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan:
-     Transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia
-     Transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan
-     Antibiotik untuk mengatasi infeksi.
I.     Induksi Remisi
a.    Obat yang digunakan terdiri atas:
·      Vincristine (VCR), 1,5 mg/m2/minggu secara IV.
·      Prednisone (Pred), 6 mg/m2/hari secara oral.
·      L.Asparaginase (L.asp), 10.000 U/m2.
·      Daunorubicin (DNR), 25 mg/m2/minggu-4 minggu.
b.    Regimen yang digunakan untuk LLA dengan resiko standar terdiri atas:
·      Prednison + VCR
·      Prednisone + VCR + L.Asparaginase.
c.    Regimen untuk LLA dengan resiko tinggi atau LLA pada orang dewasa, antara lain:
·      Prednisone + VCR + DNR dengan atau tanpa L.Asparaginase.
·      DNR + VCR + Prednison + L.asparaginase dengan atau tanpa siklofosfamid.
II.  Terapi post-remisi
a.    Terapi untuk sanctuary phase(membasmi sel leukemia yang bersembunyi dalam SSP dan testis).
b.    Terapi intensifikasi/konsolidasi: pemberian regimen non-cross resistant terhadap induksi remisi.
c.    Terapi pemeliharaan (maintenance): umumnya digunakan 6 mercaptopurine (6 MP) per oral, diberikan diberikan selama 2-3 tahun dengan diselingi terapi konsolidasi.

G.          Komplikasi
·              Hepatomegaly dan splenomegali
·              tumor lysis sindrome
·              gagal ginjal
·              sepsis (adanya mikroorganisme dalam darah atau jaringan lain)
·              perdarahan
·              trombosis
·              neurophaty (gangguan fungsional pada sistem saraf tepi)
·              encephalophaty (penyakit degeneratif pada otak)
·              keganasan sekunder
·              kekurangan hormon pertumbuhan
·              Kematian juga dapat terjadi. Biasanya akibat dari infeksi yang tak terkontrol lagi ataupun perdarahan yang luar biasa. Bahkan bisa juga terjadi sekalipun telah diterapi dengan produk darah yang benar dan kemoterapi yang tepat.

H.          Prognosis
Sebelum adanya pengobatan untuk leukemia, penderita akan meninggal dalam waktu 4 bulan setelah penyakitnya terdiagnosis. Lebih dari 90% penderita penyakitnya bisa dikendalikan setelah menjalani kemoterapi awal.
Banyak penderita yang mengalami kekambuhan, tetapi 50% anak-anak tidak memperlihatkan tanda-tanda leukemia dalam 5 tahun setelah pengobatan.Anak berusia 3-7 tahun memiliki prognosis paling baik.Anak-anak atau dewasa yang jumlah sel darah putih awalnya kurang dari 25.000 sel/mikroL darah cenderung memiliki prognosis yang lebih baik daripada penderita yang memiliki jumlah sel darah putih lebih banyak.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN HEMATOLOGI
( LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT )
A.      Pengkajian
Pengkajian keperawatan yang dilakukan terdiri atas keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu.
1.         Anamnesis
Anamnesa, meliputi: nama, umur (ALL sering terdapat pada anak – anak usia dibawah 15 tahun ( 85 % ), puncaknya berada pada usia 2 – 4 tahun), jenis kelamin (Rasio lebih sering terjadi pada anak laki – laki daripada anak perempuan), dsb
2.         Keluhan Utama
Pada anak prasekolah keluhan yang sering muncul tiba – tiba adalah demam, lesu dan lelah, nafsu makan berkurang, pucat (anemia), dan kecendrungan terjadi perdarahan, dan nyeri.
3.         Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pada penderita ALL sering ditemukan riwayat keluarga yang terpapar oleh bahan kimia ( benzene dan arsen ) ; infeksi virus ( Epstein barr HTLV – 1 ) ; kelainan kromosom dan penggunaan obat – obatan seperti phenylbutazone dan chloramphenicol ; serta terapi radiasi maupun kemoterapi.
4.         Psikososial
Merasa kehilangan kemampuan dan harapan, cemas terhadap lingkungan baru, serta kehilangan teman.Depresi, mengingkari, kecemasan, takut, cepat terangsang, perubahan mood, dan tampak bingung.
5.   Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan DDST
Umur 0-3 bulan
Mengangkat kepala setinggi 45 derajat Menggerakkan kepala dari kanan/kiri ke tengah Melihat dan menatap wajah Anda Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh Suka tertawa keras Bereaksi terkejut terhadap suara keras Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
Umur 3-6 bulan
Berbalik dari telungkup ke telentang Mengangkat kepala setinggi 90 derajat Mempertahankan kepala tetap tegak dan stabil Menggenggam pencil Meraih benda yang ada dalam jangkauannya Memegang tangannya sendiri Berusaha memperluas pandangan Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik Tersenyum ketika melihat gambar/mainan yang menarik saat bermain sendiri
Umur 6-9 bulan
Duduk (sikap tripoid-sendiri) Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang Memindahkan benda dari tangan satu ke tangan lainnya Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup Bersuara tanpa arti, misalnya mamama, bababa, papapa. Mencari benda/mainan yang dijatuhkan Bermain tepuk tangan/ciluk ba Bergembira dengan melempar benda Makan kue sendiri
Umur 9-12 bulan
Mengangkat badannya ke posisi berdiri Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi Dapat berjalan dengan dituntun Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan/gambar yang diinginkan Menggenggam erat pensil Memasukkan benda ke mulut Mengulang menirukan bunyi yang didengar Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti Mengeksprolasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja Berekasi terhadap suara perlahan/bisikan Senang diajak bermain “ciluk ba” Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal
Umur 12-18 bulan
Berdiri sendiri tanpa berpegangan Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali Berjalan mundur 5 langkah Memanggil ayah dengan kata “papa”, memanggil ibu dengan kata “mama” (tergantung mengajarinya, kalau diajari memanggilnya “ayah” ya akan panggil “ayah” catatan) Menumpuk 2 kubus Memasukkan kubus di kotak Menunjuk apa yang didinginkan tanpa merengek/menangis, anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu. Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing
Umur 18-24 bulan
Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik Berjalan tanpa terhuyung-huyung Bertepuk tangan/melambai-lambai Menumpuk 4 buah kubus Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk Menggelindingkan bola ke arah sasaran Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga Memegang cangkir sendiri, belajar makan minum sendiri
Umur 24-36 bulan
Jalan naik tangga sendiri Dapat bermain dan menendang bola kecil Mencoret-coret pensil pada kertas Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika diminta Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah Melepas pakaiannya sendiri
Umur 36-48 bulan
Berdiri 1 kaki 2 detik Melompat kedua kaki diangkat Mengayuh sepeda roda tiga Menggambar garis lurus Menumpuk 8 buah kubus Mengenal 2-4 warna Menyebut nama, umur, tempat Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan Mendengarkan cerita Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan Mengenakan sepatu sendiri Mengenakan celana panjang, kemeja, baju
Umur 48-60 bulan
Berdiri 1 kaki 6 detik
Melompat-lompat 1 kaki Menari Menggambar tanda silang Menggambar lingkaran Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh Mengancing baju atau pakaian boneka Menyebut nama lengkap tanpa dibantu Senang menyebut kata-kata baru Senang bertanya tentang sesuatu Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar Bicaranya mudah dimengerti Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya Menyebut angka, menghitung jari Menyebut nama-nama hari Berpakaian sendiri tanpa dibantu Menggosok gigi tanpa dibantu Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu
Umur 60-72 bulan
Berjalan lurus Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap Menangkap bola kecil dengan kedua tangan gambar Menggambar segi empat Mengerti arti lawan kata Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10 Mengenal warna-warni Mengungkapkan simpati Mengikuti aturan permainan Berpakaian sendiri tanpa dibantu
6.   Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dikaji adalah pemeriksaan persistem B1 – B6.
B1 ( Breathing )
Anak mudah mengalami kelelahan serta sesak saat beraktivitas ringan.Dapat ditemukan adanya dispnea, takipnea, batuk, crackles, dan penurunan suara napas.
B2 ( Bleeding )
Penderita ALL mudah mengalami perdarahan spontan yang tidak terkontrol dengan trauma minimal, gangguan visual akibat perdarahan retina, demam, lebam, purpura, perdarahan gusi, dan epistaksis.Keluhan berdebar, takikardi, suara murmur jantung, kulit dan mukosa pucat, deficit saraf cranial, terkadang ada perdarahan serebral.
B3 ( Brain )
Keluhan nyeri abdominal, sakit kepala, nyeri persendian, dada terasa lemas, kram pada otot, meringis, kelemahan, dan hanya berpusat pada diri sendiri.
1.    Neurosensori
Penurunan kemampuan koordinasi, perubahan mood, bingung, disorientasi, kehilangan konsentrasi, pusing, kesemutan, telinga berdenging, dan kehilangan rasa ( baal ).
2.    Pola Kognitif dan Persepsi
Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami penurunan kesadaran ( samnolen ), iritabilitas otot dan sering kejang, adanya keluhan sakit kepala, serta disorientasi karena sel darah putih yang abnormal berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.
3.    Pola Mekanisme Koping dan Stres
Anak berada dalam kondisi yang lemah dengan pertahan tubuh yang sangat rendah. Dalam pengkajian dapat ditemukan adanya depresi, penarikan diri, cemas, takut , marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan perubahan suasana hati dan bingung.
B4 ( Bladder )
Pada inspeksi didapatkan adanya abses perianal serta hematuria.
B5 ( Bowel )
Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anoreksia, muntah, perubahan sensasi rasa, penurunan BB dan gangguan menelan, serta faringitis.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen, penurunan bising usus, pembesaran limpa, pembesaran hepar akibat invasi sel–sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis, ulserasi oral, dan adanya pembesaran gusi ( bisa menjadi indikasi terhadap acute monolytic leukemia )
Anak kadang mengalami diare, penegangan pada parineal, nyeri abdomen, serta ditemukan darah segar dan feses berwarna ter, darah dalam urine, serta penurunan urine output.
B6 ( Bone )
Berikut ini akan dijelaskan mengenai dampak ALL terhadap pola tidur, pola latihan, dan aktivitas.
1.    Pola Tidur dan Istirahat
Anak memperlihatkan penurunan aktivitas dan lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur / istirahat karena mudah mengalami kelelahan.
2.    Pola Latihan 
Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami penurunan koordinasi dalam pergerakan, keluhan nyeri pada sendi atau tulang.Anak sering dalam keadaan umum lemah, rewel, dan ketidakmampuan melaksanakan aktivitas rutin seperti berpakaian, mandi, makan, dan toileting secara mandiri.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan penurunan tonus otot , kesadaran somnolen, keluhan jantung berdebar – debar ( palpitasi ), adanya murmur, kulit pucat, membrane mukosa pucat serta penurunan fungsi saraf cranial dengan atau disertai tanda – tanda perdarahan serebral.
3.    Aktivitas
Lesu, lemah, terasa payah, merasa tidak kuat untuk melakukan aktivitas sehari – hari, kontraksi otot lemah, klien ingin tidur  terus, dan tampak bingung.
7.   Pemeriksaan Diagnostik
1.    Count blood cells : indikasi normositik, anemia normokromik.
2.    Hemoglobin : bisa kurang dari 10 gr %.
3.    Retikulosit : menurun / rendah.
4.    Jumlah trombosit : sangat rendah ( < 50.000 / mm ).
5.    White blood cells : > 50.000 / cm dengan peningkatan immature WBC ( kiri ke kanan ).
6.    Serum / urineuric acid : meningkat.
7.    Serum zinc : menurun.
8.    Bone marrow biopsy : indikasi 60 – 90 % adalah blast sel dengan precursor eritroid, sel matur, dan penurunan megakariosit.
9.    Rontgen dada dan biopsy kelenjar limfa : menunjukkan tingkat kesulitan tertentu.
B.       Diagnosa Keperawatan
a)         Aktual / resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan perubahan maturitas sel darah merah, peningkatan jumlah limfosit imatur, dan imunosupresi.
b)        Aktual / resiko tinggi terhadap penurunan volume cairan yang berhubungan dengan pengeluaran berlebihan seperti muntah, perdarahan, diare, dan penurunan intake cairan.
c)         Nyeri akut yang berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe, efek sekunder pemberian agen antileukemia.
d)        intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber energy, peningkatan laju metabolic akibat produksi leukosit yang berlebihan serta ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan.
e)         Koping individu atau keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis penyakit, gambaran diri yang salah, dan perubahan peran.
f)         Kecemasan individu dan keluarga yang berhubungan dengan prognosis penyakit.
C.      RENCANA TINDAKAN
Aktual / resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan perubahan maturitas sel.
Rencana intervensi pada pasien ini, bertujuan agar klien tidak mengalami infeksi, syok hipovolemik teratasi, tidak ada nyeri, dan meningkatnya kemampuan teraktivitasi.
Tujuan : dalam waktu 1 × 24 jam tidak terjadi infeksi.
Kriteria : klien dan keluarga mampu mengidentifikasi faktor resiko yang dapat dikurangi serta mampu menyebutkan tanda dan gejala dini infeksi.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji dan catat faktor yang meningkatkan resiko infeksi.

Lakukan tindakan untuk mencegah pemajanan pada sumber yang beresiko.
-          Pertahankan isolasi protektif sesuai kebijakan institusional.
-          Pertahankan teknik mencuci tangan.
-          Beri hygiene yang baik.
-          Batasi pengunjung.
-          Gunakan protocol rawat mulut.

Laporkan bila ada perubahan tanda vital.



Jelaskan alasan kewaspadaan dan pantangan .

Yakinkan klien dan keluarganya bahwa peningkatan kerentanan pada infeksi hanya sementara.



Minimalkan prosedur infasif.



Dapatkan kultur sputum, urine, diare, darah, dan sekresi tubuh abnormal sesuai anjuran.
Menjadi data dasar dan meminimalkan resiko infeksi.

Kewaspadaan meminimalkan pemajanan klien terhadap bakteri, virus, pathogen jamur, baik endogen maupun eksogen.






Perubahan tanda – tanda vital merupakan tanda dini terjadinya sepsis, terutama bila terjadi peningkatan suhu tubuh.

Pengertian klien dapat memperbaiki kepatuhan dan mengurangi faktor resiko.

Granulositopenia dapat menetap 6 – 12 minggu.Pengertian tentang sifat sementara granulositopenia dapat membantu mencegah kecemasan klien dan keluarganya.

Prosedur tertentu dapat menyebabkan trauma jaringan, meningkatkan kerentanan infeksi.

Kultur dapat mengonfirmasikan infeksi dan mengidentifikasi organisme penyebab.

Aktual / resiko tinggi penurunan volume cairan, hipovolemi, dan syok yang berhubungan dengan pengeluaran cairan berlebih sekunder dari diare, muntah – muntah, perdarahan, dan diafhoresis.
Tujuan : dalam waktu 1 × 24 jam gangguan volume cairan dan syok hipovolemi teratasi.
Kriteria : Klien tidak  mengeluh pusing, membrane mukosa lembab, turgor kulit norma, tanda – tanda vital dalam batas normal, CRT < 3 detik, urine > 600 ml / hari. Laboratorium  : nilai hematokrit dan protein serum meningkat, Bun / kreatinin menurun.
INTERVENSI
RASIONAL
Pantau status cairan ( turgor kulit, membrane mukosa, dan keluaran urine ).






Kaji sumber – sumber kehilangan cairan.







Auskultasi TD. Bandingkan kedua lengan, ukur dalam keadaan berbaring, duduk, atau, berdiri bila memungkinkan.



Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer, dan dihaforesis secara teratur.
Timbang berat badan setiap hari.
Pantau frekuensi jantung dan irama.


Pantau frekuensi jantung dan irama.


Kolaborasi :
-          Pertahankan pemberian cairan secara intravena.



-          Pemberian kortikosteroid



-          Monitor hasil pemeriksaan diagnostic : platelet, Hb / Hct, dan bekuan darah.
Jumlah dan tipe cairan pengganti ditentukan dari keadaan status cairan. Penurunan volume cairan mengakibatkan menurunnya produksi urine. Pemantauan yang ketat pada produksi urine < 600 ml / hari merupakan tanda – tanda terjadinya syok kardiogenik.

Kehilangan cairan bisa berasal dari faktor ginjal dan diluar ginjal.Penyakit yang mendasari terjadinya kekurangan volume cairan ini juga harus diatasi Perdarahan harus dikendalikan.Muntah dapat diatasi dengan obat – obat antiemetic dan diare dengan antidiare.

Hipotensi bisa terjadi pada hipovolemi yang memberikan manifestasi sudah terlibatnya system kardiovaskuler untuk melakukan kompensasi mempertahankan tekanan darah.

Mengetahui adanya pengaruh peningkatan tahanan perifer.
Sebagai ukuran keadekuatan volume cairan, intake yang lebih besar dari output dapat diindikasikan menjadi renal obstruksi.

Perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukkan komplikasi disritmia.


Jalur yang paten penting untuk pemberian cairan cepat dan memudahkan perawat dalam melakukan control intake dan output cairan.

Efek kortikosteroid yang menahan cairan dapat menurunkan bertambahnya cairan yang keluar.

Bila platelet < 20.000 / mm ( akibat pengaruh sekunder obat neoplastik ), klien cenderung mengalami perdarahan. Penurunan Hb / Hct berindikasi terhadap perdarahan.




Nyeri akut yang berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe, efek sekunder pemberian agen antileukimia.Peningkatan produksi asam laktat jaringan local.

Tujuan : dalam waktu 3 × 24 jam terdapat penurunan respons nyeri.
Kriteria : secara subyektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri, secara obyektif didapatkan tanda – tanda vital dalam batas normal, wajah rileks, dan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
INTERVENSI
RASIONAL
Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, serta lama dan penyebarannya.

Lakukan manajemen nyeri keperawatan :
1.      Atur  posisi fisiologis.


2.      Istirahatkan klien.



3.      Manajemen lingkungan : lingkungan tenang dan batasi pengunjung.





4.      Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam.


5.      Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.






6.      Lakukan manajemen sentuhan.






Kolaborasi pemberian terapi
-          Analgetik






-          Kemoterapi.







-          Radiasi.
Variasi penampilan dan perilaku klien karena terjadi sebagai temuan pengkajian.

Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan oksigen ke jaringan yang mengalami nyeri sekunder dari iskemia.

Istirahatkan akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer sehingga akan menurunkan demand oksigen jaringan.

Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan.

Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia jaringan.

Distraksi ( pengalihan perhatian ) dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.

Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri.Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri dan menurunkan sensasi nyeri.

Digunakan untuk mengurangi nyeri sehubungan dengan hematoma otot yang besar dan perdarahan sendi analgetika oral non – opioid diberikan untuk menghindari ketergantungan pada narkotika pada nyeri kronis.

Bentuk terapi utama adalah kemoterapi dengan kombinasi vincristine, prednisone, daunroubicine, dan asparaginase untuk terapi awal dan dilanjutkan dengan kombinasi mercaptopurine, methotrexate, vincristine, dan prednisone untuk pemeliharaan.

Radiasi untuk daerah kraniospinal dan injeksi intratekal obat kemoterapi dapat membantu mencegah kekambuhan pada system saraf pusat.

Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber energy, peningkatan laju metabolic akibat produksi leukosit yang berlebihan, ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan.
Tujuan : aktivitas sehari – hari klien terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas.
Kriteria : klien menunjukkan kemampuan beraktivitas tanpa gejala – gejala yang berat, terutama mobilisasi di tempat tidur.
INTERVENSI
RASIONAL
Catat frekuensi dan irama jantung, serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas.

Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.

Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen, misalnya mengejan saat defekasi.

Jelaskan pada peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas, contoh bangun dari kursi bila tak ada nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah makan.

Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut.

Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis.

Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi.

Berikan waktu istirahat diantara waktu aktivitas.


Selama aktivitas kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja dan frekuensi nafas serta keluhan subyektif.

Respons klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium.

Menurunkan kerja miokardium / konsumsi oksigen.

Dengan mengejan dapat mengakibatkan bradikardi, menurunkan curah jantung, dan takikardi serta peningkatan TD.

Aktivitas yang maju memberikan control jantung, meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas berlebihan.


Untuk mengurangi beban jantung.


Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran vena balik.

Untuk mengetahui fungsi jantung, bila dikaitkan dengan aktivitas.

Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung.

Melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung.
Koping individu atau keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis penyakit, gambaran diri yang salah, perubahan peran.
Tujuan : dalam waktu 1 × 24 jam klien atau keluarga mampu mengembangkan koping yang positif.
Kriteria : Klien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan, mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negative.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan.


Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada klien.





Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan, termasuk permusuhan dan kemarahan.

Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian.



Berikan informasi status kesehatan pada klien dan keluarga.





Dukung mekanisme koping efektif.








Hindari faktor peningkatan stress emosional.





Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan.


Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak – banyaknya hal – hal untuk dirinya.


Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat dan partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi.

Dukung penggunaan alat – alat yang dapat mengadapatasikan klien, tongkat, alat bantu jalan, dan tas panjang untuk kateter.


Pantau gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letarghi, dan menarik diri.



Kolaborasi : rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.
Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.

Beberapa klien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian, sedangkan yang lain mempunyai kesulitan membandingkan mengenal dan mengatur kekurangan.

Menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk mengenal dan mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut.

Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh juga kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.

Klien dengan hemophilia sering memerlukan bantuan dalam menghadapi kondisi kronis, keterbatasan ruang kehidupan, dan kenyataan bahwa kondisi tersebut merupakan penyakit yang akan diturunkan ke generasi berikutnya.

Sejak masa kanak- kanak, klien dibantu untuk menerima dirinya sendiri dan penyakitnya serta mengidentifikasi aspek positif dari kehidupan mereka.Mereka harus didorong untuk merasa berarti dan tetap mandiri dengan mencegah trauma yang dapat menyebabkan episode perdarahan akut dan mengganggu kegiatan normal.

Perawat harus mengetahui pengaruh stress tersebut secara professional dan personal serta menggali semua sumber dukungan untuk mereka sendiri begitu juga untuk klien dan keluarganya.

Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan.

Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta memengaruhi proses rehabilitasi.

Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang.

Meningkatkan kemandirian untuk membantu pemenuhan kebutuhan fisik dan menunjukkan posisi untuk lebih aktif dalam kegiatan social.

Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut.

Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan  perasaan.

Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman, atau perubahan kesehatan.
Tujuan : dalam waktu 1 × 24 jam kecemasan klien berkurang.
Kriteria : klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang memengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, damping klien, dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak.

Hindari konfrontasi.



Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.

Tingkatkan control sensasi klien.








Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya.

Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat.






Kolaborasi : berikan anticemas sesuai indikasi,
Contohnya : diazepam.

Reaksi verbal / nonverbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah, dan gelisah.


Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerjasama, dan mungkin memperlambat penyembuhan.

Mengurangi ransangan eksternal yang tidak perlu.

Kontrol sensasi klien ( dalam menurunkan ketakutan ) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien, menekankan pada penghargaan terhadap sumber – sumber koping, ( pertahanan diri ), yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik – teknik pengalihan, serta memberikan respons baik yang positif.

Orientasi dapat menurunkan kecemasan.


Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak diekspresikan.

Memberikan waktu untuk mengeskpresikan perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman – teman yang dipilih klien melayani aktivitas serta pengalihan ( misalnya membaca ) akan menurunkan perasaan terisolasi.

Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.

 BAB IV

PENUTUP
A.      Kesimpulan
-        Leukemia Limfositik Akut merupakan suatu proliferasi ganas dari Limfoblast.
-        Leukemia Limfositik Akut diklasifikasikan berdasarkan morfologis dan imunofenotipe.
-        Faktor penyebab ALL belum diketahui, namun dapat terjadi akibat interaksi dengan factor-faktor, seperti radiasi, zat kimia, dsb.
-        Gejalanya, antara lain: rasa lelah, panas tanpa infeksi, nyeri tulang dan sendi, penurunan berat badan, serta perdarahan.
-        Bentuk terapi utama klien ALL adalah kemoterapi.

B.       Saran
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan klien dengan Leukemia: ALL. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Terima Kasih,

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC
Handayani, Wiwik dan Andi Sulistyo Haribowo. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba Medika
Price, Sylvia A. dan Lorraine M.Wilson. 1994. Patofisiologi-Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Buku 1 Edisi 4. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzzane C dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta: EGC
http://community.um.ac.id/2010/07/Leukemia-Limfositik-Akut.html diakses tanggal 7 Oktober 2010
http://mediaku.web.id/2009/04/penyakit-leukemia-kanker-darah.html diakses tanggal 7 Oktober 2010


Selasa, 18 September 2012

ASKEP ANAK TYPOID

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
B. Tujuan
1. Memenuhi tugas mata kuliah keperawatan anak II.
2. Dapat memahami konsep penyakit typhoid.
3. Dapat memahami konsep ASKEP typhoid.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
2. Penyebab
3. Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
4. Pathway Infeksi oleh S. Typhi per oral
Pada epitel bagian proksimal usus halus à sel lekosit mononuklear

Dalam limfokel pada lamina propria usus halus, plaque peyer à Pembuluh limfe Peredaran darah à dalam waktu 24 – 72 jam à bakterimia pertama
Zat pirogen Organ – organ (hati, limpha, sumsum tulang) Hypertermia(panas meningkat) Berkembang biak dalam retikuloendotelial à endotoksin à bakterimia kedua
Peredaran darah/bakterimia Ggn pemenuhan nutrisi
Lidah kotor Kelenjar limphoid usus halus Diare (tukak pd mukosa usus/plak) Bibir kering 
Mual/muntah Ggn kebutuhan cairan
Endotoksin à bahan prokoagulan 
Bedrest Perdarahan (perforasi peritonitis) Ggn ADL, ketakutan
Kelemahan

Sumber: Depkes RI, 1993
5. Tanda Dan Gejala
Masa tunas typhoid 10 – 14 hari
a. Minggu I
pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
b. Minggu II
pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.
6. Pemeriksaan Laboratorium
1) Peningaktan titer uji widal 4x selama 2-3 minggu à demam typhoid.
2) Reaksi widal dengan titer 0 à 1: 320, reaksi widal dengan titer H à 1: 640
8) Biakan darah positif terhadap S. Typhi pada minggu pertama
9) Reaksi widal
Aglutinin O
Aglutinin H à Diagnosis
Aglutinin Vi
Makin tinggi titernya makin besar kemungkinan klien menderita tyfoid. Pada infeksi aktf, titer reaksi widal akan meningkat pada pemeriksaan ulang.
Faktor – faktor Yang mempengaruhi reaksi widal:
1. Keadaan umum
Gisi buruk menyumbat pembentukan antibodi
2. Pemeriksaan terlalu awal
Aglutinin baru di jumpai dalam darah setelah 1 minggu dan mencapai puncaknya minggu ke 6.
3. Penyakit tertentu (leukimia, ca)
4. Obat – obat immunosuppresif atau kortikosteroid
5. Vaksinasi dengan hotipa / tipa
6. Infeksi klinis atau sub klinis oleh sallmonela.
Reaksi widal positif dengan titer rendah. 
7. Komplikasi
b. Perdarahan usus
c. Perforasi usus
d. Ileus paralitik
8. Penatalaksanaan
Perawatan.
1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan
Diet.
1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
Obat-obatan.
1) Klorampenikol
2) Tiampenikol
3) Kotrimoxazol
4) Amoxilin dan ampicillin
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas:
1) Umur: Typhoid Abdominalis adalah penyakit tropik yang sering menimbulkan kematian pada anak akibat terlambatnya prilaku mencari pengobatan karena kecenderungan gejala awalnya hampir sama dengan gejala flu.
2) Jenis kelamin: secara spesifik tidak terdapat perbedaan tingkat kejadian pada anak perempuan atau anak laki-laki.
3) Tempat tinggal: tidak terdapat pengaruh yang bermakna antara kejadian typhoid dengan keadaan tempat tinggal mengingat proses penularan penyakit ini adalah fekal oral.
b. Keluhan utama: pasien biasanya datang dengan keluhan suhu badan naik turun disertai gejala mual muntah.
c. Riwayat penyakit sekarang: Pasien juga sering menunjukkan keluhan kepala pusing, badan dirasa lemah, nafsu makan menurun, mengeluh ngilu dan nyeri pada otot. Pada pengamatan ditemukan: Lidah kotor (kotor di tengah tepi dan ujung merah dan tremor), BB menurun, porsi makan tidak habis, ggn sensasi pengecapan, Gelisah, terdapat penurunan kesadaran: Somnolen stupor, koma, delirium atau psikosis, Immobilisasi, Pembesaran hepar (hepatomegali), Diare, kadang disertai konstipasi.
S: hypertermia (> 37,50C), bradikardia relatif, Hepatomegali, splenomegali, meteorismus (akumulasi udara dalam intestinal), 8) Roseola (bintik merah pada leher, punggung dan paha)
d. Riwayat penyakit dahulu: Mungkin pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya serta pernah tidaknya memperoleh pengobatan antimikroba sebelumnya serta riwayat vaksinasi sebelumnya.
e. Riwayat penyakit keluarga: Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga minimal 6 bulan terakhir.
f. Riwayat kesehatan lingkungan: Kaji klien tentang penyediaan air bersih, kebersihan individu dalam kebiasaan makan, minum. Sanitasi lingkungan.
g. Riwayat tumbuh kembang:
1) Tahap pertumbuhan dan perkembangan anak usia pra sekolah.
a) Bayi baru lahir – 1 tahun.
Perkembangan bayi 0-3 bulan:
- Dapat menggerakkan kedua lengan dan kaki sama mudahnya (motorik kasar = MK).
- bereaksi dengan melihat ke arah sumber cahaya (motorik halus=MH).
- Mengoceh dan bereaksi terhadap suara (bicara, bahasa, kecerdasan = BBK).
- Bereaksi terhadap senyum terhadap ajakan (Bergaul dan mandiri = BM).
Perkembangan bayi 3 – 6 bulan:
- Menegakkan kepala pada saat telungkup (MK)
- Meraih benda yang terjangau (MH)
- Menengok ke arah sumber suara (BBK).
- Mencari benda yang dipindahkan (BM).
Perkembangan bayi 6 – 9 bulan:
- Ketika didudukkan dapat bertahan dengan kepala tegak (MK).
- Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain (MH).
- Tertawa/berteriak melihat benda menarik (BBK).
- Makan biskuit tanpa dibantu (BM).

Perkembangan bayi 9 – 12 bulan:
- Berjalan dnegan berpegangan (MK).
- Dapat meraup benda – benda kecil (MH).
- Mengatakan 2 suku kata yang sama (BBK).
- Bereaksi terhadap permainan cilukba (BM).

Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
Fase oral (0-1 tahun):
- Fokus primer dari existensi bayi adalah pada mulutnya.
- Bayi memperoleh kesenangan, kepuasan dan kenikmatan dari menghisap, menggigit, mengunyah serta bersuara.
- Bayi sangat etrgantung dan tidak berdaya.
- Bayi perlu dilindungi agar mendapat rasa aman.
- Dasar perkembangan mental yang sehat sangat bergantung dari hubungan ibu dan bayi.

Tahap perkembangan manusia ditinjau dari aspek psikososial oleh Eric Ericsson:
Masa bayi 0 – 1 tahun: Trust vs mistrust.
Bayi belajar untuk percaya pada orang yang merawatnya, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti: kehangatan, amkanan dan kenyamanan sehingga kepercayaan pada orang lain terbentuk ketidakpercayaan adalah akibat dari perawatan yang tidak konsisten, tidak cukup dan tidak aman.
b) 1 – 3,5 tahun (toddler)
perkembangan bayi 12 – 18 bulan:
- Berjalan sendiri, tidak jatuh (MK).
- Mnegambil benda kecil dnegan ibu jari dan telunjuk (MH).
- Mnegungkapkan keinginan secara sederhana (BBK).
- Minum sendiri dari gelas tidak tumpah (BM).
Perkembangan bayi 18 – 24 bulan:
- Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah (MK).
- Mencoret – coret dnegan alat tulis (MH).
- Menunjuk bagian tubuh dan menyebut namanya (BBK).
- Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga (BM).
Perkembangan bayi 2 – 3 tahun:
- Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan sedikitnya 2 hitungan (MK).
- Meniru membuat garis lurus (MH).
- Menyatakan keinginan sedikitnya dengan 2 kata (BBK).
- Melepas pakaian sendiri (BM).
Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
Fase anal (1 – 3 tahun):
- Daerah anal merupakan aktifitas yang elingkupi pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido yang penting selama tahun kedua kehidupan.
- Anak mulai menunjukkan keakuannya.
- Sikapnya sangat narsisistik (cinta terhadap dirinya sendiri) dan egoistik.
- Mulai belajar kenal dnegan tubuhnya sendiri dan mendapatkan pengalaman autoerotik (merasa lega/nikmat dari dirinya).
- Tugas utama anak pada fase ini adalah latihankebersihan.
- Sisa – sisa konflik fase ini menimbulkan kepribadian anal yaitu:
v Anal retentif (menyimpan/menahan):
§ Bersifat obsesif (gangguan pikiran).
§ Pandangan sempit.
§ Introvert
§ Pelit.
v Anal eksklusif:
§ Ekstrovert impulsif (dorongan membuka diri).
§ Tidak rapi.
§ Kurang pengendalian diri.
- Tugas penting fase ini adalah: perkembangan bicara dan bahasa.
Tahap perkembangan manusia ditinjau dari aspek psikososial menurut Eric Ericsson:
Usia 1 – 3 tahun (Toddler): Autonomy vs Shame.
Perkembangan keterampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh dari kemampuannya untuk amndiri (tidak tergantung), melalui dorongan orangtua untuk amkan, berpakaian, BAB sendiri. Jika orangtua terlalu over protectif (terlalu melindungi), menuntut harapan yang terlalu tinggi, maka anka akan merasa malu dan ragu – ragu seperti juga perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
c) 3,5 – 5 tahun (pre sekolah)
perkembangan bayi usia 3 – 4 tahun:
- Berjalan menjijit (MK).
- Membuat gambar lingkaran (MH).
- Mengenal sedikitnya 1 warna (BBK).
- Mematuhi cara permainan sederhana (BM).
Perkembangan anak usia 4 – 5 tahun:
- Melompat dengan 1 kaki (MK).
- Dapat menagncingkan baju (MH).
- Dapat bercerita sederhana (BBK).
- Dapat mencuci tangan sendiri (BM).
Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
Fase oedipal/falik ( 3 – 5 tahun):
- Usia 3 tahun anak mulai melakukan rangsangan auto erotic (meraba – raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya).
- Biasanya senang bermain dnegan anak berjenis kelamin beda.
- Anak pasca oedipal berkelompok dengan sejenis.
Perkebangan psikososial menurut Eric Ericsson.
Anak pre school (4 – 6 tahun), Initiative vs guilt:
Kepercayaan yang diperoleh anak toddler diartikan bahwa ia diperbolehkan memiliki inisiatif dalam belajar mencari pengalaman – penagalaman baru secara aktif seperti bagaimana dan mengapa tentang sesuatu sehingga anak dapat memperluas aktifitasnya, jika anak dilaranag/diomeli/dicela untuk usahanya itu yaitu mencari pengalaman baru, anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang keterampilan motorik dan bahasanya.
2) Tahap pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah.
a) Anak usia 5 – 11 tahun.
Perkembangan anak usia 5 – 6 tahun:
- Menangkap bola kasti pada jarak 1 meter (MK).
- membuat gambar segiempat (MH).
- Mengenal angka dan huruf serta berhitung (BBK).
- Berpakaian sendiri tanpa dibantu (BM).
Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
Fase latent 9 5 – 12 tahun).
- Anak masuk ke permulaan fase pubertas.
- Periode integrasi, dimana anak harus berhadapan dnegan berbagai tuntutan sosial, contoh: hubungan kelompok, pelajaran sekolah dll.
- Fase tenang.
- Dorongan ibido mereda sementara.
- Zona erotik berkurang.
- Anak tertarik dnegan kelompok sebaya.
Tahap perkembangan psikososial menurut Eric Ericsson.
Anak usia 6 – 12 tahun: Industry vs inferioritas.
Berfokus pada hasil akhir suatu pencapaian (prestasi=achievement), anak memperoleh kesenangan dari penyelesaian tugas/pekerjaannya dan menerima penghargaan untuk usaha/kepadaiannya. Jika anak tidak mendapat penerimaan dari teman sebayanya atau tidak dapat memenuhi harapan oarngtuanya ia merasa rendah diri, kurang menghargai dirinya untuk dapat berkembang. Jadi fokus pada anak sekolah adalah pada hasil prestasinya, pengakuan dan pujian dari keluarganya, guru dan teman sebaya. Perkembangan adalah pengertian dari persaingan/kompetisi dan kerajinannya.
b) Anak usia 11 – 15 tahun
Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud.
Fase genital ( > 1 2tahun):
- Fase akhir perkembangan anak.
- Anak harus menghadapi berbagai perkembangan yang kompleks.
- Anak diharapkan dapat bereaksi sebagai orang dewasa, sedangkan sebenarnya ia masih dalam masa transisi.
- Kesulitan yang timbul sering disebabkan si anak belum dapat menyelesaikan fase sebelumnya dengan tuntas (segala tugas dan persoalan pada fase sebelumnya belum terselesaikan degan baik).
- Kebutuhan seksual dibangkitkan kembali yang mengarah pada perasaan cinta yang matang terhadap lawan jenis.
Tahap perkembangan psikososial menurut Eric Ericsson.
Adolescence: Identity vs Role confusion:
Merupakan masa transisi dari masa kanak – kanak ke masa dewasa/kedewasaan, dimana terjadi banyak perubahan pada fisik.
Ø Hormonal: growth of secondary yang menyebabkan perubahan skunder pada ciri – ciri seksualnya.
Ø Suasana hati: iarama suasana hati mudah berubah, ia mencoba peran dan memberontak tanpa pertimbangan perilaku yang normal dipelajari.
Ø Arah apa yang akan diambil dalam kehidupan ini merupakan peran yang membingungkan, terjadi ketika remaja tidak dapat menetapkan identitas dan arah pengertiannya.
h. Pengkajian per sistem:
1) sistem pernafasan: pada keadaan yang lanjut dapat ditemukan respirasi meningkat akibat peningkatan suhu tubuh.
2) Sistem kardiovaskuler: sering pasien timbul keluhan dada berdebar, bradikardia, tremor, akral dingin.
3) Sistem persarafan: sering timbul keluhan kepala pusing, kadang pada keadaan lanjut ditemukan pasien dnegan suhu tubuh tinggi disertai gelisah, penurunan kesadran: somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis.
4) Sistem perkemihan – eleminasi urine: akibat suhu tubuh meningkat terjadi peningkatan kebutuhan cairan dalam tubu sehingga terjadi penurunan produksi urine, urine berwarna pekat.
5) Sistem pencernaan – eleminasi alvi: lidah berwarna putih kotor (kotor di tengah tepi dan ujung merah), mukosa bibir kering akibat peningkatan suhu tubuh, nafsu makan menurun, mual, muntah, badan dirasa lemah, BB menurun, porsi makan tidak habis, gangguan sensai pengecapan, terdapat pembesaran hepar, pembesaran spleno, meteorismus (akumulasi udara dalam intestinal), diare bahkan kadang-kadang konstipasi.
6) Sistem Tulang – otot – integumen: pasien mengeluh nyeri otot, badan terasa ngilu, roseola (bintik merah pada punggung, leher dan paha), akibat immobilisasi dapat timbul keluhan merah tertekan pada bokong dan punggung.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
b. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehlangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare.
c. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
d. Gan pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
e. Ketakutan b/d hospitalisasi, tidak mengenal sumber ketakutan, krisis lingkungan.
3. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
Tujuan: Klien mendemonstrasikan bebas dari panas.
Kriteria hasil: Vital sign dalam batas normal, anak tenang, tidak rewel.

Intervensi 

Rasional 


Mandiri: 

1) Observasi suhu, N, TD, RR tiap 2-3 jam 

2) Catat intake dan output cairan dlm 24 jam 

3) Kaji sejauhmana pengetahuan keluarga dan pasien tentang hypertermia 

4) Jelaskan upaya – upaya untuk mengatasi hypertermia dan bantu klien/keluarga dlm upaya tersebut: 

- Tirah baring dan kurangi aktifitas 

- Banyak minum 

- Beri kompres hangat 

- Pakaian tipis dan menyerap keringat 

- Ganti pakaian, seprei bila basah 

- Lingkungan tenang, sirkulasi cukup. 

5) Anjurkan klien/klg untuk melaporkan bila tubuh terasa panas dan keluhan lain. 

Kolaborasi: 

6) Kolaborasi pengobatan: antipiretik, cairan dan pemeriksaan kultur darah. 


Sebagai pengawasan terhadap adanya perubahan keadaan umum pasien sehingga dapat diakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat. 

Mengetahui keseimbangan cairan dalam tubuh pasien untuk membuat perencanaan kebutuhan cairan yang masuk. 

Mengetahui kebutuhan infomasi dari pasien dan keluarga mengenai perawatan pasien dengan hypertemia. 

Upaya – upaya tersebut dapat membantu menurunkan suhu tubuh pasien serta meningkatkan kenyamanan pasien. 


Penanganan perawatan dan pengobatan yang tepat diperlukan untuk megurangi keluhan dan gejala penyakit pasien sehingga kebutuhan pasien akan kenyamanan terpenuhi. 



Antipiretik dan pemberian cairan menurunkan suhu tubuh pasien serta pemeirksaan kultur darah membantu penegakan diagnosis typhoid. 



b. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare.
Tujuan: Pasien mendemonstrasikan kebutuhan cairan trepenuhi secara adekuat.
Kriteria hasil: Tidak ada manifestasi dehidrasi, input output balance.

Intervensi 

Rasional 


Mandiri: 

1) Awasi masukan dan keluaran, bandingkan dengan BB harian. Catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare. 

2) Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa. 

Kolaborasi: 

3) Awasi nilai laboratorium: HB, HT, Na albumin. 



4) Berikan cairan seperti glukosa dan Ringer laktat. 





Memberikan informasi tentang kebutuhan cairan/elektrolit yang hilang. 





Indikator volume sirkulasi/perfusi. 




Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein akibat muntah dan diare berlebihan. 

Memberikan cairan dan penggantian elektrolit. 

c. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
Tujuan: Pasien menunjukkan pemenuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil: Pasien menunjukkan peningkatan berat badan, tidak ada mual dan muntah.

Intervensi 

Rasional 


Mandiri: 

1) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan porsi kecil tapi sering dan awarkan makan pagi dengan porsi paling besar. 

2) Berikan perawatan mulut sebelum makan. 

3) Anjurkan makan dlm posisi duduk tegak. 

4) Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen sepanjang hari. 

Kolaborasi: 

5) Konsul ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien. 

6) Awasi glukosa darah. 



7) Berikan obat sesuai indikasi: antasida, antiemetik, vitamin B kompleks. 





Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksi, anoreksi juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari. 

Menghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan. 

Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan. 

Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna/ditoleran bila makanan lain tidak. 



Berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan klien. 



Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi pada klien dengan anoreksi. 

Antiemetik diberikan ½ jam sebelum makan dapat menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan. 

Antasida bekerja pada asam gaster dapat menurunkan iritasi/resiko perdarahan. Vitamin B kompleks memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan. 

d. Ggn pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
Tujuan: kebutuhan Adl anak terpenuhi secara adekuat sesuai tugas perkembangannya.
Kriteria hasil: Anak menunjukkan ADL terpenuhi secara adekuat, personal hygiene baik, anak menunjukkan peningkatan dalam beraktifitas.

Intervensi 

Rasional 


Mandiri: 

1) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan. 







2) Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik. 



3) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi. 

4) Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif. 



5) Dorong penggunaan teknik manajemen stres. Berikan aktifitas hiburan yang tepat contoh: menonton TV, radio, membaca, bermain. 

6) Awasi terulangnya anoreksia. 





Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Aktifitas dan posisi duduk tegak diyakini meurunkan aliran darah ke kaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke organ pencernaan. 

Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan. 

Memungkinkan perode tambahan istirahat tanpa gangguan. 

Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat. 

Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping. 



Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut dan memerlukan penggantian program terapi. 

e. Ketakutan b/d hospitalisasi, tidak mengenal sumber ketakutan, krisis lingkungan.
Tujuan: Anak menunjukkan tidak adanya ketakutan.
Kriteria hasil: Anak bersikap kooperatif dengan pengobatan dan perawatan yang dilakukan, anak tenang, anak bermain tanpa rasa takut.

Intervensi 

Rasional 


1) lakukan pendekatan pada anak dengan ramah atau menggunakan media mainan, permen, kue. Tunjukkan sikap ramah dan banyak senyum kepada anak. 

2) Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan (pada anak yang lebih dewasa). 

3) Berikan contoh tindakan perawatan yang akan dilakukan dengan menggunakan media lain. 

4) Libatkan keluarga terutama orangtua terdekat dalam setiap prosedur tindakan yang akan dilakukan. 

5) Hentikan intervensi bila anak menangis atau ketakutan. Jangan memaksa melakukan intervensi bila anak menolak. 

6) Desain ruangan anak dengan warna yang cerah (hijau, merah muda, kuning, biru) dan beri gambar-gambar yang menarik.Beri hiburan musik yang ceria di ruangan anak bila perlu. 

7) Sediakan waktu bermain bagi anak usia preschool atau kesempatan belajar bagi anak usia sekolah. 



Menciptakan hubungan saling percaya dengan anak. 







Menciptakan kerjasama anak dalam perawatan yang diberikan. 



Menghindarkan anak dari ketakutan tanpa objek. 





Meningkatkan rasa percaya diri anak sehingga anak lebih kooperatif. 



Menghindarkan anak dari ketakutan yang berlebih. 





Menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak. 


Memberikan kesempatan anak beraktifitas sesuai masa perkembangannya. 


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Diagnosa Keperawatan:

f. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
g. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehlangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare.
h. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
i. Gan pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
j. Ketakutan b/d hospitalisasi, tidak mengenal sumber ketakutan, krisis lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA

Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Carolyn M. Hudak, Barbara M. Gallo (1996), Keperawatan Kritis; Pedekatan Holistik Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Donna D. Igatavicius, Kathy A. Hausman ( 1995), Medical Surgical Nursing: Pocket Companoin For 2 nd Edition, W. B. Saunders Company, Philadelphia.
Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak FK Unud (1997), Buku Standar Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unud, Denpasar.
Lynda Juall Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI (1993), Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga Cetakan II, Depkes RI, Jakarta.
Soetjiningsih (2000), Tumbuh Kembang Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI (1995), Buku Kuliah Jilid 2: Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta.


A. KONSEP PENYAKIT
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3) Jumlah leukosit normal / Leukopenia / Leukositisis.
4) Anemia ringan, LED meningkat, SGOT, SGPT dan Fosfatase alkali meningkat
5) Dalam minggu pertama biakan darah Salmonella typhi positif 75 – 85 %\
6) Biakan Tinja dalam minggu kedua dan ke tiga
7) Reaksi widal Titer O dan H meningkat sejak minggu kedua dan tetap posisitf selama beberapa bulan atau tahun
Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.