BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asfiksia Neonatus akan terjadi apabila saat lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport o2 sehingga penderita kekurangan persediaan o2 dan kesulitan pengeluaran co2. Pada keadaan ini biasanya bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sampai sekarang Asfiksia masih merupakan salah satu penyebab penting morbilitas dan mortalitas perintal. Banyak kelainan pada masa neonatus mempunyai kaitan dengan factor asfiksia ini.
Pada penderita asfiksia yang dipelajari di RSCM/ FKUL didapatkan bahwa syndrome gangguan nafas, aspirasi melonin, infeksi dan kejang merupakan penyakit yangs sering terjadi pasca asfiksia. Pada penderita asfiksia dapat pula ditemukan penyakit lain yaitu gangguan fungsi jantung, rejatan neonatus, gangguan fungsi ginjal, atau kelainan gastrointestinal, kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran telah banyak berperan dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan neonatus.
B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan asfiksia.
b. Tujuan Khusus
1. Dapat memahami pengertian asfiksia.
2. Dapat memahami Etiologi asfiksia.
3. Dapat memahami manifestasi klinis asfiksia.
4. Dapat memahami patofisiologi asfiksia.
5. Dapat membuat asuhan keperawatan asfiksia.
6. Dapat membuat pengkajian asfiksia.
7. Dapat membuat diagnose keperawatan asfiksia.
8. Dapat membuat rencana tindakan asfiksia.
9. Dapat melaksanakan tindakan asfiksia.
10. Dapat mengevaluasi asuhan keperawatan asfiksia.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak bisa bernafas secara spontan dan adekuat (Wroatmodjo,1994).
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan dimana hipoksia dan hiperkapnea serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).
B. Etiologi dan Faktor Predisposisi Asfiksia
Menurut pedoman Depkes RI Santoso NI, 1995. Ada beberapa faktor etiologi dan predisposisi terjadinya asfiksia, antara lain sebagai berikut:
a. Faktor Ibu Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi karena eklamsia, penyakit jantung dan lain-lain.
b. Faktor Placenta Yang meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis, plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.
c. Faktor Janin dan Neonatus Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR, kelainan kongenital dan lain-lain.
d. Faktor Persalinan Meliputi partus lama, partus tindakan dan lain-lain (Ilyas Jumiarni, 1995).
C. Patofisiologi
Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan / persalinan, akan terjadi asfiksia. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan ini dapat reversible atau tidak tergantung dari berat badan dan lamanya asfiksia. Asfiksia ringan yang terjadi dimulai dengan suatu periode appnoe, disertai penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan menunjukan usaha nafas, yang kemudian diikuti pernafasan teratur. Pada asfiksia sedang dan berat usaha nafas tidak tampak sehingga bayi berada dalam periode appnoe yang kedua, dan ditemukan pula bradikardi dan penurunan tekanan darah.Disamping perubahan klinis juga terjadi gangguan metabolisme dan keseimbangan asam dan basa pada neonatus. Pada tingkat awal menimbulkan asidosis respiratorik, bila gangguan berlanjut terjadi metabolisme anaerob yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh pada hati dan jantung berkurang. Hilangnya glikogen yang terjadi pada kardiovaskuler menyebabkan gangguan fungsi jantung. Pada paru terjadi pengisian udara alveoli yamh tidak adekuat sehingga menyebabkan resistensi pembuluh darah paru. Sedangkan di otak terjadi kerusakan sel otak yang dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.
D. Manifestasi Klinis
Appnoe primer : Pernafasan cepat, denyut nadi menurun dan tonus neuromuscular menurun
Appnoe sekunder : Apabila asfiksia berlanjut , bagi menunjukan pernafasan megap–megap yang dalam, denyut jantung terus menerus, bayi terlihat lemah (pasif), pernafasan makin lama makin lemah.
TANDA-TANDA | STADIUM I | STADIUM II | STADIUM III |
Tingkat kesadaran | Sangat waspada | Lesu (letargia) | Pingsan (stupor), koma |
Tonus otot | Normal | Hipotonik | Flasid |
Postur | Normal | Fleksi | Disorientasi |
Refleks tendo / klenus | Hyperaktif | Hyperaktif | Tidak ada |
Mioklonus | Ada | Ada | Tidak ada |
Refleks morrow | Kuat | Lemah | Tidak ada |
Pupil | Midriasis | Miosis | Tidak sama, refleks cahaya jelek |
Kejang-kejang | Tidak ada | Lazim | Deserebrasi |
EEG | Normal | 1aktifitas kejang-kejangèVoltase rendah | Supresi ledakan sampai isoelektrik |
Lamanya | 24 jam jika ada kemajuan | 24 jam sampai 14 hari | Beberapa hari sampai beberapa minggu |
Hasil akhir | Baik | Bervariasi | Kematian, defisit berat |
E. APGAR Score
Penilaian menurut score APGAR merupakan tes sederhana untuk memutuskan apakah seorang bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan. Tes ini dapat dilakukan dengan mengamati bayi segera setelah lahir (dalam menit pertama), dan setelah 5 menit. Lakukan hal ini dengan cepat, karena jika nilainya rendah, berarti tersebut membutuhkan tindakan.
Observasi dan periksa :
A = “Appearance” (penampakan) perhatikan warna tubuh bayi.
P = “Pulse” (denyut). Dengarkan denyut jantung bayi dengan stetoskop atau palpasi denyut jantung dengan jari.
G = “Grimace” (seringai). Gosok berulang-ulang dasar tumit ke dua tumit kaki bayi dengan jari. Perhaitkan reaksi pada mukanya. Atau perhatikan reaksinya ketika lender pada mukanya. Atau perhatikan reaksinya ketika lender dari mulut dan tenggorokannya dihisap.
A = “Activity”. Perhatikan cara bayi yang baru lahir menggerakkan kaki dan tangannya atau tarik salah satu tangan/kakinya. Perhatikan bagaimana kedua tangan dan kakinya bergerak sebagai reaksi terhadap rangsangan tersebut.
R = “Repiration” (pernapasan). Perhatikan dada dan abdomen bayi. Perhatikan pernapasannya.
TANDA | 0 | 1 | 2 | JUMLAH NILAI |
Frekwensi jantung | Tidak ada | Kurang dari 100 x/menit | Lebih dari 100 x/menit | |
Usaha bernafas | Tidak ada | Lambat, tidak teratur | Menangis kuat | |
Tonus otot | Lumpuh / lemas | Ekstremitas fleksi sedikit | Gerakan aktif | |
Refleks | Tidak ada respon | Gerakan sedikit | Menangis batuk | |
Warna | Biru / pucat | Tubuh: kemerahan, ekstremitas: biru | Tubuh dan ekstremitas kemerahan |
Apgar Skor : 7-10; bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
Apgar Skor 4-6; (Asfiksia Neonatorum sedang); pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekwensi jantung lebih dari 100 X / menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada
Apgar Skor 0-3 (Asfiksia Neonatorum berat); pada pemeriksaan fisik ditemukan frekwensi jantung kurang dari 100 X / menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
F. Diagnosis
Asfiksia pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia janin. Diagnosa anoksia/hipoksia dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukan tanda-tanda gawat janin untuk menentukan bayi yang akan dilahirkan terjadi asfiksia, maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatikan:
1. Denyut Jantung Janin Frekuensi normal ialah 120 sampai 160 denyutan per menit, selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada keadaan semula.
2. Mekanisme Dalam Air Ketuban Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada prosentase kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan terus timbul kewaspadaan.
3. Pemeriksaan PH Pada Janin Apabila pH itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya. Dengan penilaian pH darah janin dapat ditemukan derajat asfiksia.
4. Dengan Menilai Apgar Skor
H. Pelaksanaan Resusitasi
Membuka Jalan Nafas Mencegah Kehilangan Suhu Tubuh / Panas Pemberian Tindakan VTP (Ventilasi Tekanan Positif) Pemberian Obat-Obatan Penunjang.
I. Penatalaksanaan Berdasarkan Penilaian Apgar Skor
Apgar skor menit I : 0-3, Jaga agar bayi tidak kedinginan; Lakukan segera intubasi dan lakukan mouth ke tube atau pulmanator to tube ventilasi. Bila intubasi tidak dapat, lakukan mouth to mouth respiration kemudian dibawa ke ICU; Ventilasi Biokemial. 2. Apgar skor menit I : 4-6, Seperti yang diatas, jangan dimandikan, keringkan seperti diatas; Beri rangsangan taktil dengan tepukan pada telapak kaki; Bila belum berhasil, beri O2 dengan atau tanpa corong; Detik jantung kurang dari 100 kali permenit lakukan bag dan mask ventilation dan pijat jantung. 3. Apgar skor menit I : 7-10, Bersihkan jalan nafas; Bayi dibersihkan (boleh dimandikan) kemudian dikeringkan; Observasi tanda vital sampai stabil, biasanya 2 jam sampai 4 jam.
J. Komplikasi
Odem Otak Pendarahan Otak Anuria atau Oliguria Hyperbilirubinemia Obstruksi usus yang fungsional Kejang sampai koma Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : Pneumonthorax (Wirjoatmodjo, 1994 : 168).
K. Prognosa
Asfiksia ringan / normal : Baik. Asfiksia sedang; tergantung kecepatan penatalaksanaan bila cepat prognosa baik. Asfiksia berat; dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama, atau kelainan syaraf permanen. Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis yang permanent misalnya cerebal palsy, mental retardation (Wirjoatmodjo, 1994 : 68).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA
I. Pengkajian
a) Data subyektif, terdiri dari: Biodata atau identitas pasien : Bayi; meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin Orangtua; meliputi nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat (Talbott Laura A, 1997 : 6). Riwayat kesehatan Riwayat antenatal Riwayat natal komplikasi persalinan Riwayat post natal Pola eliminasi Latar belakang sosial budaya Kebudayaan yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia Kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol Hubungan psikologis.
b) Data Obyektif, terdiri dari: Keadaan umum Tanda-tanda Vital, Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila suhu tubuh < 36 ?C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh < 37 ?C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5?C – 37,5?C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit. Pemeriksaan fisik. Kulit; warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks. Kepala; kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung. Mata; warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya. Hidung terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir. Mulut; Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak. Telinga; perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan Leher; perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek
Contoh:
Thorax; bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit. Abdomen, bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah arcus costaae pada garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna. Umbilikus, tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda – tanda infeksi pada tali pusat. Genitalia; pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada neonatus laki – laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan Anus; perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari faeses. Ekstremitas; warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya. Refleks; pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter Patricia A, 1996 : 109-356).
c) Data Penunjang, Pemeriksaan yang diperlukan adalah : Darah; Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari : Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit. Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi. Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct). Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun karena sering terjadi hipoglikemi. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari : pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik. PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik sering terjadi hiperapnea. PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif. HCO3 (normal 24-28 mEq/L) Urine Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari : Natrium (normal 134-150 mEq/L) Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L) Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L) Foto thorax Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.
II. Diagnosa Keperawatan :
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien post asfiksia berat antara lain:
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
3. Resiko terjadinya hipoglikemia
4. Resiko terjadinya hipotermia
5. Resiko terjadinya infeksi
6. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat terpisah.
III. Rencana Asuhan Keperawatan :
Dx 1: Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.
Tujuan: Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria: Pernafasan normal 40-60 kali permenit; Pernafasan teratur; Tidak cyanosis; Wajah dan seluruh tubuh warna kemerahan; Gas darah normal.
Intervensi: 1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang datar, kepala lurus, dan leher sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm.
R/ Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi kelancaran jalan nafas.
2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
R/ Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin pertukaran gas yang sempurna.
3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam.
R/ Deteksi dini adanya kelainan.
4. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas darah arteri.
R/ Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan otak. Dan peningkatan pada kadar PCO2 menunjukkan hypoventilasi.
Dx 2: Resiko terjadinya hipotermi sehubungan dengan adanya proses persalinan yang lama dengan ditandai akral dingin suhu tubuh dibawah 36° C.
Tujuan: Tidak terjadi hipotermia.
Kriteria: Suhu tubuh 36,5 – 37,5°C; Akral hangat; Warna seluruh tubuh kemerahan. Intervensi: 1. Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer).
R/ Mengurangi kehilangan panas pada suhu lingkungan sehingga meletakkan bayi menjadi hangat.
2. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas handuk / kain yang kering dan hangat.
R/ Mencegah kehilangan tubuh melalui konduksi.
3. Observasi suhu bayi tiap 6 jam.
R/ Perubahan suhu tubuh bayi dapat menentukan tingkat hipotermia.
4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak mungkin diberikan.
R/ Mencegah terjadinya hipoglikemia.
Dx 3: Resiko gangguan penemuan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria: Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik; Berat badan tidak turun lebih dari 10%; Retensi tidak ada.
Intervensi:1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
R/ Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan / perawatan yang tepat.
2. Monitor turgor dan mukosa mulut.
R/ Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.
3. Monitor intake dan out put.
R/ Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance).
4. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
R/ Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.
5. Lakukan control berat badan setiap hari.
R/ Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor.
Dx 4: Resiko terjadinya infeksi.
Tujuan: Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria: Tidak ada tanda-tanda infeksi; Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
Intervensi: 1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan.
R/ Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah.
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
R/ Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi). R/ Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi.
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.
R/ Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan.
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
R/ Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman.
6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal.
R/ Deteksi dini adanya kelainan.
7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
R/ Mencegah terjadinya penularan infeksi.
8. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
R/ Mencegah infeksi dari pneumonia.
9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP.
R/ Sebagai pemeriksaan penunjang.
Dx 5: Resiko terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan metabolisme yang meningkat. Tujuan: Tidak terjadi hipoglikemia selama masa perawatan.
Kriteria: Akral hangat; Tidak cyanosis; Tidak apnea; Suhu normal (36,5°C -37,5°C); Distrostik normal (> 40 mg).
Intervensi: 1. Berikan nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi.
R/ Mencegah pembakaran glikogen dalam tubuh dan untuk pemantauan intake dan out put.
2. Beri selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan. R/ Menjaga kehangatan agar tidak terjadi proses pengeluaran suhu yang berlebihan sedangkan suhu lingkungan berpengaruh pada suhu bayi.
3. Observasi gejala kardinal (suhu, nadi, respirasi).
R/ Deteksi dini adanya kelainan.
4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemeriksaan laborat yaitu distrostik.
R/ Untuk mencegah terjadinya hipoglikemia lebih lanjut dan kompli-kasi yang ditimbulkan pada organ - organ tubuh yang lain.
Dx 6: Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan dengan perawatan intensif.
Tujuan: Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu.
Kriteria: Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi; Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat bayinya sendiri.
Intervensi: 1. Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
R/ Ibu mengerti keadaan bayinya dan mengura-ngi kecemasan serta untuk kooperatifan ibu/keluarga.
2. Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
R/ Membantu memecah-kan permasalahan yang dihadapi.
3. Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
R/ Ketidaktahuan memperbesar stressor.
4. Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).
R/ Menjalin kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca pembatas.
5. Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan.
R/ Rawat gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan bayi/setelah bayi diperbolehkan pulang.
IV. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan asuhan keperawatan yang merupakan realisasi rencana tindakan yang telah ditentukan dalam tahap perencanaan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal (Santosa NI, 1995).
V. Tahap Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari proses keperawatan yaitu proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana perawatan, tercapai atau tidak serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan (Santosa NI, 1995).
BAB IV
KESIMPULAN
1. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan dimana hipoksia dan hiperkapnea serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).
2. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien post asfiksia berat antara lain:
I. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.
II. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
III. Resiko terjadinya hipoglikemia
IV. Resiko terjadinya hipotermia
V. Resiko terjadinya infeksi
VI. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat terpisah
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.
Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi dan Klasifikasi
Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.
Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi dan Klasifikasi
Jakarta : Prima Medika.
Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Criteria Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC
Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC
Mochtar. R. 1989. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Saifudin. A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Straight. B. R. 2004. Keperawatan Ibu Baru Lahir. Edisi 3. Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar